Storify Feed Feedburner Facebook Twitter Flickr Youtube

ROS Lboard

‘Siapa kirim orang Sulu ke Lahad Datu’

 | February 27, 2013

Ini kerana, biaya untuk menyewa kapal feri demi mengirimkan mereka tidak murah, kata Presiden Benigno Aquino.

MANILA: Filipina sedang sedang mencari siapa yang sebenarnya mengirimkan ratusan orang Sulu ke Lahad Datu, Sabah.

Ini kerana, biaya untuk menyewa kapal feri demi mengirimkan mereka tidak murah, kata Presiden Benigno Aquino.

“Kami diberitahu ada dana besar yang membiayai  mereka dari Tawi-Tawi ke Sabah. Dari mana dana itu? Dari siapa?” katanya seperti dilapor viva.co.id hari ini.

Beliau juga mempersoalkan kesahihan Jamalul Kiram III sebagai pewaris Kesultanan Sulu yang sah.

Menurutnya, pemimpin Sulu sekarang ini bukanlah keturunan langsung Sultan Sulu yang diakui Filipina pada 1974, iaitu Esmail Kiram I.

Ismael tidak memiliki keturunan sehingga kematiannya dan takhta diturunkan kepada orang lain. Kerajaan Filipina tidak mengakui kepimpinan Sultan Jamalul sebagai pewaris Sulu dan mengatakan seharusnya yang memimpin ketika ini adalah Esmail Kiram II, adik dari Esmail Kiram I.

Namun Esmail II mengatakan bahawa dia bukanlah pewaris, melainkan putera mahkota atau dalam bahasa Sulu disebut “sultan bantilan”. Ismael II juga mengatakan bahawa Jamalul adalah Sultan Sulu dan penguasa Palawan dan Sabah sejak waktu itu.

“Sejauh yang keluarga kami ketahui, Jamalul adalah pewaris Sultan,” kata Esmail.

Dengan menunjukkan gambar riwayat keturunan Kesultanan Sulu, Aquino menegaskan bahawa Sultan Sulu sekarang iaitu Jamalul Kiram III, memiliki keturunan yang sangat jauh dari jawatan pemimpin.

Kajian kerajaan Filipina menunjukkan, Jamalul Kiram III adalah saudara jauh kepada  Sultan Mawallil Wasit, adik Esmail II.

“Inilah persoalan yang pertama kali muncul, siapa yang seharusnya mewakili Kesultanan Sulu?” kata Aquino.

Kerajaan Filipina juga sedang mengkaji dua dokumen mengenai sewa Sabah oleh Kesultanan Sulu kepada syarikat British North Borneo Co. tahun 1878 yang kemudian diambil alih Malaysia tahun 1960 an.


Comments

Readers are required to have a valid Facebook account to comment on this story. We welcome your opinions to allow a healthy debate. We want our readers to be responsible while commenting and to consider how their views could be received by others. Please be polite and do not use swear words or crude or sexual language or defamatory words. FMT also holds the right to remove comments that violate the letter or spirit of the general commenting rules.

The views expressed in the contents are those of our users and do not necessarily reflect the views of FMT.

Comments